Seperti Kura-Kura dan Kungkang

Selamat bertemu kembali!

Udah lama banget gue nggak nulis yang bukan selain untuk kebutuhan kuliah kayak idea journal kemarin. Sebetulnya gue lagi menjalankan UAS sampai tanggal 28 Mei nanti, nggak asyik banget sebetulnya kepotong lebaran, tapi gapapa liburan gue menjadi lebih tenang lah ya.

Emang suka lucu gue, bukannya ngerjain makalah UAS malah bikin blog. Tapi sejujurnya tulisan ini udah lama mau gue tuangkan, nggak tenang aja gue kalo cuma ada di kepala, terlalu penuh. Jadi mau mengurangi apa yang ada di kepala, dan biar pas ngerjain UAS nya agak sedikit jernih lah ya pikiranku.

Kali ini gue mau berbicara tentang hidup selow. Februari lalu, kalo nggak salah, gue curhat ke temen gue, Nadia, mengenai hidup. Dan salah satu kesimpulannya adalah, "kadang kita perlu mencontoh kura-kura, dia berjalan lambat, tapi dia punya rumah yang bisa dia bawa ke mana-mana, dia tau kapan dia harus beristirahat". Gue curhat soal banyaknya pikiran mengenai ekspektasi orang lain, dan tuntutan yang rasanya harus dilakuin, hmm tuntutan berdalih "belajar bareng, berkembang bersama". Begitu deh pokoknya.

Selain kura-kura, rasanya kita juga perlu mencontoh kungkang (sloth). Hidupnya lambat banget. Tapi ternyata kelambanannya ini yang buat dia survive! Slow living atau urip selo ini mengajarkan gue untuk melakukan apapun dengan mindful, dengan penuh kesadaran, di sini, kini. Sekitar 2 minggu lalu, gue pelan-pelan mencoba belajar mindful dari buku Anger nya Thich Nhat Hanh. Bukunya belum gue baca sampai selesai, dan belum gue lanjut lagi sih. Tapi setelah membaca 1 bab, gue pelan-pelan menekuni dan meresapi. Cuma belum berhasil juga sih. Judul bukunya Anger, tapi rasanya banyak banget hal yang bikin geram dan mau sekali meneriaki diri sendiri, mau marahin diri sendiri aja karena emang salah sendiri.

Beberapa yang gue soroti dari buku Anger yang udah gue baca antara lain:
1. Kalo mau merasa bahagia, coba untuk melepaskan kemarahan dan segala toxic dari diri sendiri
2. Marah itu ibaratnya rumah lo lagi kebakaran, yang harus lo lakuin adalah selametin rumah lo, bukan mencari dan mengejar siapa yang bakar rumah lo

Mungkin karena udah 2 bulan dikarantina, dan mungkin gue agak lambat untuk adaptasi dengan kehidupan baru ini. Dan kayaknya akhir-akhir ini banyak banget hal yang menyulut kemarahan? Atau memang gue aja yang bersumbu pendek kali ya. Oleh karena itu, tulisan ini hadir juga karena biar gue bisa refleksi aja dari buku Anger dan filosofi hidup selo. Dari Thich Nhat Hanh gue belajar untuk menikmati makanan, napas, dan belajar mendengarkan. Setelah baca doa makan, gue selalu mengingatkan diri gue untuk ngunyah makanannya dengan pelan-pelan dan sebanyak 32 kali, begitu juga dengan minum, mencoba rasain gimana air yang gue minum mengalir dari mulut hingga ke kerongkongan. Dan kalo gue berhadapan dengan hal-hal yang bikin kesel, gue mencoba untuk "udah, tarik napas aja bro!" ini agak susah sih, rasanya gue mau ngedumel aja. Seperti yang gue alami saat ini. Tapi yok pasti bisa!

Lalu kaitannya sama hidup selo apa? Maksud gue selo di sini bukan berarti malas juga ya. Gue tuh mau banget bisa mindful dalam segala hal, dan lebih fokus dengan hidup sendiri tapi nggak egois. Ribet banget ya permintaan gue. Pada intinya, gue mau lebih selo dalam menjalankan hidup dan berhadapan dengan orang lain, nggak boleh iri dan marah, nggak boleh merasa hidup gue paling penting, gue nggak mau jadi parasit untuk diri gue dan orang lain. Gue harus bisa lebih berguna seperti yang pernah gue bilang mengenai tujuan hidup gue. 

Gue mau mengamini cara hidupnya kungkang yang lambat kayak di film Zootopia dan juga larinya kura-kura yang lambat tapi ternyata bisa menang lomba lari dan mengalahkan kelinci. Pelan-pelan, satu per satu. 

Komentar