Mengawali Tahun Baru, Menjadi Medioker

Saya sendiri tidak terlalu bersemangat dan merayakan tahun baru 2022. Tidak ada makan-makan besar bersama keluarga, tidak ada tiup terompet, juga tidak melihat petasan pada pukul 00.00. Semakin bertambah umur, tahun baru rasanya hanya seperti pegantian hari biasa. 

Namun, saya bersyukur saya masih bisa bertahan hingga saat ini. Setahun kemarin banyak sekali hal-hal berat yang mesti dipikul, dan tantangan yang mesti dihadang. Kalau bisa dikalkulasikan, mungkin setengah tahun saya lewati dengan air mata. Alias memang saya cengeng hingga nangis melulu. Alhamdulillah, saya bersyukur saya masih sehat. Saya harap kamu sehat-sehat ya!

Dapat dibilang saya adalah orang yang cukup optimis dan terencana. Saya suka sekali membuat rencana tahunan, bulanan, mingguan, dan membuat bullet journal aesthetic ala Pinterest. Kerapkali saya bahkan menuliskan goals dengan serakah. Sampai saat ini saya menyadari bahwa terkadang saya nggak tahu apa yang saya tulis pada journal dan planner saya itu. Beberapa hal yang saya tulis pun sebetulnya bukan suatu hal yang saya benar-benar butuh dan inginkan. Saya terlalu banyak melihat kanan-kiri, hingga membuat saya memasang ekpektasi yang terlalu tinggi ke diri sendiri. 

Tahun ini, saya ingin lebih banyak bercermin. Saya ingin lebih mengenal sosok yang ada dicermin itu, diri saya sendiri. Saya ingin belajar lebih sayang ke diri sendiri, tidak terlalu perfeksionis, dan tidak terlalu ambisius. Saat ini saya mau berada di tengah-tengah, biasa-biasa saja. Saya ingin menjadi seorang medioker.  

Meja belajar dan meja kerja saya :)

Back to basic & being mediocre. Mungkin itulah motto saya untuk tahun ini. Saya tidak lagi menulis harapan yang tinggi-tinggi. Di tahun ini saya ingin benah-benah apa yang hancur diporak-poranda pandemi. Saya mau menjalankan kebiasaan umumnya dengan baik. Salat dan makan tepat waktu, serta rajin olahraga. Nggak perlu makanan plant-based, nggak perlu langganan gym. Nggak perlu ke cafe dengan dalih lebih produktif. Nggak perlu membeli makanan atau barang nggak penting sebagai self-reward. Saya mau menggunakan apa yang ada. Sederhana, dan biasa-biasa saja.

Harapan paling besar yang saya tulis dalam jurnal saya adalah ingin lulus, itu saja. Syukur-syukur kalau setelah lulus langsung dapat pekerjaan.

Komentar