Idea Journal #8 : Cemas dengan Aplikasi Kecemasan

Malam ini (27/04), gue, Dicky, dan Roby kembali berdiskusi mengenai Group Project CT kami. Kami mencari berbagai aplikasi baik di apple store atau play store yang memiliki kemiripan dengan project yang kami rencanakan. Beberapa nya adalah stoic, breethe, wysa, youper, headspace, talklife, sanvello,  innerhour, reflectly, dan cove. Setelah kami review, memang sudah banyak aplikasi semacam terutama dalam hal anxiety. Dari yang pernah saya pakai, yang memiliki kemiripan adalah aplikasi InnerHour Self-Care Therapy - Anxiety & Depression. Fitur yang dimiliki oleh aplikasi ini antara lain Specialised Tracker untuk mengetahui mood pengguna setiap harinya, Curated Programmes untuk concern yang berbeda, dan personalised plans sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pengguna.

Dalam persamaan yang terdapat diaplikasi tersebut, ada perbedaan dari aplikasi yang kami rencanakan. Di aplikasi kami, pengguna bisa membuat personalized fitu yang dibutuhkan juga. Hal ini akan terkait dengan konten apa yang akan disajikan oleh pengguna, baik berupa rekomendasi video terapi ataupun playlist musik. Preferensi pengguna juga berkaitan dengan artikel yang sekiranya dapat membantu pengguna untuk lebih tau mengenai hal apa yang mereka cemaskan. Selain itu, kami juga memiliki tracker mood untuk mengetahui emosi dari pengguna setiap harinya dan juga dilengkapi dengan rating semisal "seberapa cemas kamu hari ini?" dengan beberapa pertanyaan yang menjadi tolak ukur dan sudah pernah diuji dalam beberapa penelitian psikologis. Rating ini tujuannya untuk mengukur apakah kecemasan yang dialami pengguna masih bisa diatasi oleh diri sendiri, dibimbing aplikasi, atau diarahkan ke support group dengan seorang fasilitator yaitu psikolog, dan terakhir apa pengguna tersebut direkomentasikan agar pergi ke psikolog atau psikiater terdekat. Keunggulan lain dari aplikasi kami adalah, karena belum banyak aplikasi mengenai kesehatan mental yang buatan Indonesia, jadi sudah pasti kami menyediakan bahasa Indonesia untuk memudahkan pengguna. Aplikasi ini juga dapat menjadi wadah untuk support group jika ada pengguna yang memang merasa butuh teman, dan merasa bahwa mereka sebetulnya nggak sendiri. Support group ini akan ada narahubungnya yang nantinya akan mengumpulkan pengguna yang mendaftar, dan bersifat offline untuk maksimal 10 orang di setiap grupnya. Untuk support group offline nya sendiri, diakan berdasarkan kesepakatan bersama di dalam grup tersebut dengan biaya yang juga disepakati bersama.

Untuk kendala atau kelemahannya, sejauh ini, kami masih belum menentukan strategi kreatif bagaimana yang akan dilakukan untuk membuat orang-orang tau bahwa ada aplikasi ini. Lalu, cara untuk engage audiens agar tertarik, ada keinginan untuk mengunduh, dan konsisten dalam menggunakan belum kami temukan caranya. Salah satu yang terlintas dibenak kami adalah kami melakukan kolaborasi dengan kampanye online yang membawa isu anxiety juga. Dari kolaborasi ini, bisa aja organisasi terkait merekomendasikan aplikasi kami sehingga audiens jadi tau dan tertarik untuk mencoba aplikasi buatan anak bangsa. Kendala yang masih kami pikirkan adalah mengenai keuntungan dari sebuah aplikasi. Sejauh ini, kami tidak menyediakan semacam premium member, tapi kami mendapatkan keuntungan salah satunya dari iklan yang muncul setiap membuka fitur.

Sekian idea journal ke-8 dari Sri, Dicky, dan Roby.




Komentar