Halo!
Kembali lagi di idea journal gue. Di ideas journal ke-3 ini, kelas kami dapat tema tentang kesehatan mental, apa yang gue pikirkan saat mendengar kesehatan mental, dan menuliskan pengetahuan gue dari pengalaman gue soal kesehatan mental. Tema ke-3 ini juga berkaitan dengan personal project untuk kelas creative thinking nantinya.
Jika mendengar tentang kesehatan mental, yang pertama kali muncul dipikiran gue adalah 'kecemasan'. Gue tau kalo kesehatan mental itu luas banget. Tapi entah kenapa yang menjadi top of mind bagi gue adalah isu mengenai kecemasan. Gue benar-benar baru tau cukup banyak tentang kesehatan mental itu sejak masuk kuliah. Dunia kuliah yang benar-benar berbeda dan ada peristiwa-peristiwa yang membuat gue terasa jatuh ke titik terendah gue, membuat gue lebih perhatian terhadap diri dan kesehatan mental gue. Dari mulai mengikuti kampanye dan event yang dibuat oleh UI Sehat Mental, mengikuti berbagai akun terkait seperti riliv, ibunda.id, menjadi manusia dan sebagainya di media sosial, hingga mencoba untuk konseling di BKM UI. Bagi gue isu kecemasan ini penting walau mungkin terkadang dianggap sepele. Terkadang cemas ini yang bikin stress, merasa nggak bisa terus dan akhirnya nggak pernah maju dan menjadi lebih baik, dan lupa buat nikmatin hidup dan ngerasain bahagia nya dunia.
Sadar dan tau tentang kesehatan mental itu penting banget. Beberapa hal yang gue tau dari ikut event nya UI Sehat Mental adalah mengenai emotional exhausted dan stress managemet. Dari situ gue tau, saat lagi banyak banget tugas dan gue capek, stress, gue butuh sejenak untuk istirahat dan cari stress-relief gue. Dan hal ini sangat membantu gue hingga gue bisa melewati masa kuliah gue hingga semester 4 ini dan masih bertahan hingga kini.
Masa terberat gue terjadi pada liburan semester 2 menuju semester 3 lalu, dan tahun 2019 bagi gue benar-benar menjadi tahun yang amat berat. Pada saat liburan itu, gue benar-benar menghilang. Gue nggak pakai HP gue selama sebulan, gue bingung, kosong, merasa nggak hidup. Ada masalah yang bikin gue jatuh banget sampai ke titik nadir. Gue merasa nggak punya rumah, nggak punya temen, nggak tau mau ngapain. Gue merasa nggak bisa membantu keluarga gue tapi gue harus, dan gue merasa gue menjadi orang paling nggak berguna di dunia. Gue cemas banget tentang masa depan gue. Gelap banget kelihatannya. Sampai gue udah capek mendem sendirian, gue memberanikan diri buat coba konseling. Rabu, 21 Agustus 2019 setelah beberapa kali membatalkan pertemuan, akhirnya gue beranikan diri buat konseling ke BKM UI. Cemas lagi rasanya, deg-degan, padahal nggak ada yang perlu ditakuti. Saat masuk ke ruangan, duduk, baru kenalan dengan konselor nya, dan mulai tanya, "gimana kabarnya?" langsung nangis gue, lemes. Di situ gue ceritain semuanya. Lega banget rasanya, semua yang gue pendam akhirnya bisa gue keluarin. Di saat itu, dunia yang tadi rasanya gelap banget, gue mulai melihat lagi setitik cahaya, bisa berharap lagi soal kehidupan. Dari pertemuan itu gue dapat lagi pengetahuan baru tentang teknik relaksasi pernapasan, media nuang, sandwich theory, happy place, counting blessed dan sadar buat nerima yang yang lagi dirasain, dan nerima masalah yang terjadi. Intinya adalah penerimaan. Dan dari situ gue perlahan-lahan mulai bangkit dan berusaha menyelesaikan masalah yang terjadi.
Tentang media nuang ini menjadi hal yang gue jalani selama proses menyelesaikan masalah. Katanya, "coba sedikit demi sedikit mengurangi air keruh menuang air keruh terebut agar gelas itu nggak pecah".
gambar ini adalah cerita gue tentang konseling pertama gue. Mulai saat itu gue tau bahwa media gue untuk menuangkan air keruh adalah dengan menggambar dan menulis ekspresif. Gue melakukan itu di akun IG @cerita.dan.kata , banyak banget pelajaran yang gue rasakan, terkadang dari postingan diri sendiri, jadi semangat sendiri.
Mulai saat itu, gue mulai hidup kembali.
Di akhir tahun, gue nonton Mantra-Mantra Live+++ nya Kunto Aji di Jakarta.

Di konser terebut ada Mas Adji Santosoputro dan di tengah-tengah konser penonton diajak untuk terapi keheningan. Di terapi keheningan itu, gue belajar buat memaafkan diri, berterima kasih ke diri sendiri, dan mencoba sadari napas, serta belajar mindfulness.
Selain pengalaman tersebut, ada satu pengalaman lagi yang semakin bikin gue sadar tentang pentingnya kesehatan mental. UAS matkul Media Konvergensi dan Praktik di semester lalu, gue dapat tugas untuk bikin infografis mengenai body shaming. Dan di saat itu seorang psikolog, Kak Tiara Puspita membuka support group tentang isu yang sama yaitu body image. Gue mencoba daftar, dan beruntungnya keterima. Support group tersebut hanya berisi 10 orang. Dari sini gue banyak belajar, nggak hanya tentang body image tapi juga banyak hal. Apalagi di grup tersebut gue merupakan yang paling muda, sedangkan teman-teman lainnya udah kerja. Pandangan gue semakin terbuka, terutama terkait quarter life crisis yang cukup dekat dengan usia gue saat ini, dan kehidupan yang gue jalani saat ini. Gue belajar dari cerita teman-teman di grup ini tentang insecure, tentang penilaian orang yang bikin stress, dan belajar tentang self-love. Di pertemuan lalu, Kak Tiara sedikit membahas tentang Negative Automatic Thoughts (NATs). Hal ini menarik banget, karena tanpa sadar gue sering banget dibawah pengaruh NATs ini. Di saat yang sama juga, gue dapat kesempatan buat merintis sebuah seri #CurhatCurah di akun @mejakita , dan menjadi content creator tersebut. Untuk tugas pertama gue, gue bingung mau bikin apa buat #CurhatCurah tersebut, dan akhirnya gue memutuskan untuk bikin tentang NATs ini. Tanpa sadar juga, muncul kecemasan dan pikiran otomatis yang negatif itu. Gue takut nggak bisa jadi content creator ini. Lalu, gue coba tanyakan lagi tentang NATs ini ke Kak Tiara. Gue dapat cerita tentang temannya yang mengalami NATs sama seperti gue, nge-judge dirinya selalu nggak mampu, termasuk setiap nerima tawaran atau opportunity, dan jadi bilang ke diri sendiri "setiap kecemasan muncul, arti sesungguhnya itu mungkin hal yang bagus buat gue tapi gue nggak berani aja, dan akhirnya gue coba terabas aja pikiran gue". Begitulah akhirnya pikiran dan kecemasan itu gue terabas, dan rilis lah #CurhatCurah pertama gue.

Rabu kemarin (19/2), saat dosen CT gue mengumumkan tema personal project nya, gue sangat senang dan semangat karena gue perlahan pernah membuat hal serupa. Belum tau pastinya akan bikin apa di personal project nanti, tapi gue sangat senang. Semoga aja bisa nikmatin segala proses kreatif yang ada untuk mewujudkan personal project ini.
Kembali lagi di idea journal gue. Di ideas journal ke-3 ini, kelas kami dapat tema tentang kesehatan mental, apa yang gue pikirkan saat mendengar kesehatan mental, dan menuliskan pengetahuan gue dari pengalaman gue soal kesehatan mental. Tema ke-3 ini juga berkaitan dengan personal project untuk kelas creative thinking nantinya.
Jika mendengar tentang kesehatan mental, yang pertama kali muncul dipikiran gue adalah 'kecemasan'. Gue tau kalo kesehatan mental itu luas banget. Tapi entah kenapa yang menjadi top of mind bagi gue adalah isu mengenai kecemasan. Gue benar-benar baru tau cukup banyak tentang kesehatan mental itu sejak masuk kuliah. Dunia kuliah yang benar-benar berbeda dan ada peristiwa-peristiwa yang membuat gue terasa jatuh ke titik terendah gue, membuat gue lebih perhatian terhadap diri dan kesehatan mental gue. Dari mulai mengikuti kampanye dan event yang dibuat oleh UI Sehat Mental, mengikuti berbagai akun terkait seperti riliv, ibunda.id, menjadi manusia dan sebagainya di media sosial, hingga mencoba untuk konseling di BKM UI. Bagi gue isu kecemasan ini penting walau mungkin terkadang dianggap sepele. Terkadang cemas ini yang bikin stress, merasa nggak bisa terus dan akhirnya nggak pernah maju dan menjadi lebih baik, dan lupa buat nikmatin hidup dan ngerasain bahagia nya dunia.
Sadar dan tau tentang kesehatan mental itu penting banget. Beberapa hal yang gue tau dari ikut event nya UI Sehat Mental adalah mengenai emotional exhausted dan stress managemet. Dari situ gue tau, saat lagi banyak banget tugas dan gue capek, stress, gue butuh sejenak untuk istirahat dan cari stress-relief gue. Dan hal ini sangat membantu gue hingga gue bisa melewati masa kuliah gue hingga semester 4 ini dan masih bertahan hingga kini.
Masa terberat gue terjadi pada liburan semester 2 menuju semester 3 lalu, dan tahun 2019 bagi gue benar-benar menjadi tahun yang amat berat. Pada saat liburan itu, gue benar-benar menghilang. Gue nggak pakai HP gue selama sebulan, gue bingung, kosong, merasa nggak hidup. Ada masalah yang bikin gue jatuh banget sampai ke titik nadir. Gue merasa nggak punya rumah, nggak punya temen, nggak tau mau ngapain. Gue merasa nggak bisa membantu keluarga gue tapi gue harus, dan gue merasa gue menjadi orang paling nggak berguna di dunia. Gue cemas banget tentang masa depan gue. Gelap banget kelihatannya. Sampai gue udah capek mendem sendirian, gue memberanikan diri buat coba konseling. Rabu, 21 Agustus 2019 setelah beberapa kali membatalkan pertemuan, akhirnya gue beranikan diri buat konseling ke BKM UI. Cemas lagi rasanya, deg-degan, padahal nggak ada yang perlu ditakuti. Saat masuk ke ruangan, duduk, baru kenalan dengan konselor nya, dan mulai tanya, "gimana kabarnya?" langsung nangis gue, lemes. Di situ gue ceritain semuanya. Lega banget rasanya, semua yang gue pendam akhirnya bisa gue keluarin. Di saat itu, dunia yang tadi rasanya gelap banget, gue mulai melihat lagi setitik cahaya, bisa berharap lagi soal kehidupan. Dari pertemuan itu gue dapat lagi pengetahuan baru tentang teknik relaksasi pernapasan, media nuang, sandwich theory, happy place, counting blessed dan sadar buat nerima yang yang lagi dirasain, dan nerima masalah yang terjadi. Intinya adalah penerimaan. Dan dari situ gue perlahan-lahan mulai bangkit dan berusaha menyelesaikan masalah yang terjadi.
Tentang media nuang ini menjadi hal yang gue jalani selama proses menyelesaikan masalah. Katanya, "coba sedikit demi sedikit mengurangi air keruh menuang air keruh terebut agar gelas itu nggak pecah".
gambar ini adalah cerita gue tentang konseling pertama gue. Mulai saat itu gue tau bahwa media gue untuk menuangkan air keruh adalah dengan menggambar dan menulis ekspresif. Gue melakukan itu di akun IG @cerita.dan.kata , banyak banget pelajaran yang gue rasakan, terkadang dari postingan diri sendiri, jadi semangat sendiri.Mulai saat itu, gue mulai hidup kembali.
Di akhir tahun, gue nonton Mantra-Mantra Live+++ nya Kunto Aji di Jakarta.

Di konser terebut ada Mas Adji Santosoputro dan di tengah-tengah konser penonton diajak untuk terapi keheningan. Di terapi keheningan itu, gue belajar buat memaafkan diri, berterima kasih ke diri sendiri, dan mencoba sadari napas, serta belajar mindfulness.
"sadar penuh,
hadir,
utuh,
di sini,
kini".Dari konser itu di penghujung tahun 2019 yang bangsat banget, gue memulai 2020 untuk hidup mindfulness, mencoba agar nggak sesat kecemasan, dan mengurangi ekspektasi. Hidup ya, hidup, di hari itu, saat itu, dengan sadar penuh.
Selain pengalaman tersebut, ada satu pengalaman lagi yang semakin bikin gue sadar tentang pentingnya kesehatan mental. UAS matkul Media Konvergensi dan Praktik di semester lalu, gue dapat tugas untuk bikin infografis mengenai body shaming. Dan di saat itu seorang psikolog, Kak Tiara Puspita membuka support group tentang isu yang sama yaitu body image. Gue mencoba daftar, dan beruntungnya keterima. Support group tersebut hanya berisi 10 orang. Dari sini gue banyak belajar, nggak hanya tentang body image tapi juga banyak hal. Apalagi di grup tersebut gue merupakan yang paling muda, sedangkan teman-teman lainnya udah kerja. Pandangan gue semakin terbuka, terutama terkait quarter life crisis yang cukup dekat dengan usia gue saat ini, dan kehidupan yang gue jalani saat ini. Gue belajar dari cerita teman-teman di grup ini tentang insecure, tentang penilaian orang yang bikin stress, dan belajar tentang self-love. Di pertemuan lalu, Kak Tiara sedikit membahas tentang Negative Automatic Thoughts (NATs). Hal ini menarik banget, karena tanpa sadar gue sering banget dibawah pengaruh NATs ini. Di saat yang sama juga, gue dapat kesempatan buat merintis sebuah seri #CurhatCurah di akun @mejakita , dan menjadi content creator tersebut. Untuk tugas pertama gue, gue bingung mau bikin apa buat #CurhatCurah tersebut, dan akhirnya gue memutuskan untuk bikin tentang NATs ini. Tanpa sadar juga, muncul kecemasan dan pikiran otomatis yang negatif itu. Gue takut nggak bisa jadi content creator ini. Lalu, gue coba tanyakan lagi tentang NATs ini ke Kak Tiara. Gue dapat cerita tentang temannya yang mengalami NATs sama seperti gue, nge-judge dirinya selalu nggak mampu, termasuk setiap nerima tawaran atau opportunity, dan jadi bilang ke diri sendiri "setiap kecemasan muncul, arti sesungguhnya itu mungkin hal yang bagus buat gue tapi gue nggak berani aja, dan akhirnya gue coba terabas aja pikiran gue". Begitulah akhirnya pikiran dan kecemasan itu gue terabas, dan rilis lah #CurhatCurah pertama gue.

Rabu kemarin (19/2), saat dosen CT gue mengumumkan tema personal project nya, gue sangat senang dan semangat karena gue perlahan pernah membuat hal serupa. Belum tau pastinya akan bikin apa di personal project nanti, tapi gue sangat senang. Semoga aja bisa nikmatin segala proses kreatif yang ada untuk mewujudkan personal project ini.
Komentar
Posting Komentar