H-29: tentang toxic dan hati nurani

Selamat datang, Oktober!

Bulan Oktober menjadi bulan terakhir bagi usia kepala satu gue, iya tua banget gila mau kepala dua. Di detik-detik berkurangnya satu tahun masa hidup gue di Bumi, gue mau membuat sebuah proyek menulis, selama 29 hari ke depan mengenai refleksi harian gue dan kontemplasi gue di blog ini. Semoga konsisten. Ok.

Kita mulai ya...

Hari ini, hari pertama bulan Oktober, gue bangun pagi, langsung didatangkan dengan masalah. Gue hampir cabut kelas karena masalah ini, tapi gue berhasil melawan ego gue buat kabur dari masalah. Hal yang memicu gue untuk membuat mood gue menjadi baik adalah sebuah surat dari temen gue, surat afeksi gitu, dia bilang " I admire how you work hard for your family", langsung nangis lah gue terharu karena emang gampang banget tersentuh anaknya. Dari situ, gue mencoba untuk menenangkan dan mengatur emosi gue, gue coba metode counting blessed, berucap syukur, dan ajaib sih, emang gue perlu ya, berdiam diri sejenak buat mengingat kembali apa yang telah Tuhan dan banyak orang kasih ke gue, atau banyak hal-hal yang gue dapatkan dari usaha sendiri, yang terkadang lupa banget buat disyukuri. Setelah counting blessed dan relaksasi pernafasan, mood gue mulai bagus. Pikiran untuk skip kelas akhirnya bisa gue lawan, karena gue penasaran banget sebenernya sama mata kuliah Media Konvergensi dan Praktik. Seru banget kalo dipikir-pikir. Coba deh cari tau!

Ada satu hal yang gue khawatirin, yaitu tentang nilai. Gue punya kelompok free rider. Asli kesel banget cuy! Gue mau coba sabar dulu, karena kelompok ini bakal jadi kelompok satu semester, gue takut kalo gue menumpahkan kekesalan gue begitu aja, makin ancur aja nih kelompok, jadi gue masih usaha untuk membuat suasana kelompok ini adem ayem. Tips dong gimana menangani kelompok free rider!!

Dari toxic nya kelompok free rider itu, dan keberatan gue dengan multijob yang gue dapatkan ditengah kesibukan tugas yang sama juga, gue mau belajar bodo amat! Rasanya mau selfish aja gitu. Ini sifat manusia juga yang barangkali tanpa sadar gue lakuin, yaitu kalo ada kesalahan kecil aja tuh yang diliat kesalahannya doang gitu. Kemarin memang gue salah, tapi toh gue tuh gak meninggalkan tanggungjawab gue sepenuhnya gitu lho, yang sebetulnya peran gue itu hanya "membantu". Asli dah genk, gue sudah memegang beberapa peran, ditambah tanggungjawab tambahan, terus masa ya minta backup  nya aja gitu lho tolong masa gak boleh sih. Belajar dari situ gue tau, gak semua manusia bisa melakukan suatu hal tanpa 'pamrih', nggak semua orang mau peduli dengan apapun alasan orang lain, dan bodo amat aja. Dan gue belajar, mengasihi suatu hal itu harus pilih-pilih. Gue nggak boleh sepenuhnya jadi orang yang bodo amat. Gue harus bisa bilang "nggak" pada suatu hal atau orang yang tepat, dan bilang "iya" atau "gapapa" kepada hal yang benar dan mengasihi hal tersebut tanpa memperhitungkan. Gue makin melihat jelas, bahwa asumsi "kuliah itu individual banget" ada benarnya juga di beberapa konteks. Mungkin dari SD sampai SMA gue beruntung banget punya temen-temen yang sangat peduli satu sama lain, yang sulit lagi untuk gue temukan di dunia perkulihan ini, jadinya agak shock aja nih saya.

Oiya, mau cerita tentang kelas pengantar jurnalisme. Di semester 4 nanti, gue akan memilih peminatan, dan gue lagi bimbang banget antara jurnalisme dan periklanan. Dari kenal dunia menulis dan mulai blogging sejak SMP, suka baca biografi dan sejarah, entah kenapa gue mau banget jadi jurnalis. Makanya, pas SMA gue ikut ekskul jurnalistik sekolah. Tapi gue ngga bisa mendeskripsikan kenapa gue ingin jurnalisme, gue nggak bisa bilang alasan gue mau jurnalisme, rasanya ada yang membisikan gue aja gitu bahwa jalan gue di jurnalisme. Opsi untuk ambil periklanan tuh sebetulnya alternatif gue untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan toxic dari sodara yang maha benar, "jurnalis, ngapain? gajinya berapa sih?" Sama yang gue alami dulu ketika milih Ilmu Komunikasi, "kenapa ngga coba STAN atau ekonomi aja? Komunikasi tuh mau jadi apa?" Serius, mak bapak gue aja nih ya, sangat membebaskan gue sok atuh pilih apa aja. Rada bingung, urusan pilihan hidup gue apakah merugikan anda?

Lalu, dosen gue, Mba Ocy, dari beberapa pertemuan seringkali bilang, "ini tergantung nurani nya ya". Seperti kelas tadi, kami membahas tentang Verifikasi data, Fast Checking, Hoax, mis-information, dis-information, dan mal-information, dalam peran memberikan informasi, jurnalis harus bisa memakai nurani nya. Mau memberikan information disorder demi 'materi' atau kebenaran tapi hati bisa tenang? Gue jadi mencoba untuk berkontemplasi, apakah semesta itu sedang merancang dan perlahan-lahan membentuk hati nurani gue jika gue berhasil jadi jurnalis? Sumpah, selalu kepikiran sama jurnalisme sejak SMP. Tapi gue gak punya alasan kenapa gue pilih itu. Memang harus berkomunikasi dengan sang semesta ya?

Yaudah, sekian cerita gue. Terima kasih bagi yang sudah membaca.

Komentar