H-13: hidup itu lucu


Halo, semua!

Lebih dari seminggu gue ngga nulis nih. Gue sangat berterima kasih, ternyata ada belasan orang yang baca blog ini, sebenernya blog ini juga ngga gue share banget sih, karena siapa yang mau baca refleksi yang lebih kecurhatan gue doang.

Selama ngga nulis, banyak banget pelajaran yang gue dapat, yang sampai saat ini gue pun masih belajar. Secara garis besar, gue mau belajar aja gitu menertawakan hidup, tapi maksudnya bukan denial ya. Hidup itu kadang lucu. Banyak lucunya. Ya, gue ngga langsung ketawa tiap menghadapi suatu peristiwa atau masalah, gue juga merasakan emosi-emosi manusia lainnya, mungkin sedih, senang, marah, takut atau lainnya.

Kejadian lucu pertama adalah tentang mengejar sesuatu. Mengutip lirik lagu Rehat nya Kunto Aji, dari kutipan buku NKCTHI, “yang dicari, hilang. yang dikejar, lari. yang ditunggu, pergi.” Jadi gue nungguin orang, orangnya pergi, lari buat ngejar orang lain, tapi orang lain itu pergi. Lucu banget kan? Gue ketawa aja setiap ingat kejadian ini. Lucu banget soalnya, tapi gak mau ceritain lebih. Gue jadi belajar, buat ngga usah lagi deh lari-lari terlau kencang, nunggu terlalu lama, mencari sampai terlampau jauh, karena semesta bekerja dan akan menghadirkan hal yang serupa dan beberapa bahkan lebih baik. Iya, gue emang bukan tipikal orang yang sangat berambisi, tapi gapapa kok kalau kalian punya ambisi kuat, asal ingat istirahat ya. Pernah denger “law of attraction” ngga? Mungkin konsepnya mirip, semesta akan bekerja sesuai apa yang kita pikirkan dan lakukan di masa kini. Namun, mungkin keinginan itu ngga terwujud tepat waktu sesuai ekspektasi kita, bisa jadi karena kita belum butuh. Kebutuhan > keinginan.

Hal lain yang gue pelajarin terinspirasi dari lagu Membasuh nya Hinda ft Rara Sekar. Sejak Jumat kemarin, lagu Membasuh ini kok terus-menerus berputar di otak gue. Sampai akhirnya malam kemarin gue dengerin, pake earphone, volume full, sambil merem. Tenang banget. Dari yang gue tuh resah karena ada ‘iri’ yang mengendap di hati. Tau kan kalau iri itu penyakit hati? Selepas lagu Membasuh itu selesai, asli hati jadi plong, mau nangis aja. Mungkin berat ya, untuk pamrih dalam suatu hal, untuk ikhlas dalam melakukan suatu hal. Susah banget. Ada peristiwa yang beneran bikin gue iri banget, gue telah melakukan suatu hal, yang seharusnya buah hasil nya akan gue petik dan untuk gue, tapi ternyata buahnya dipetik oleh orang, dan diberikan ke orang lain lagi. Sakit hati aja, merasa ‘bangsat gue terlupakan’. Mau marah tapi ke siapa? Ke diri sendiri? Iya! Suruh siapa bego banget jadi orang. Selepas sakit hati itu, dan refleksi dengan lagu Membasuh, gue mulai sadar, gue punya value lebih dari itu. Gue bisa buktiin ini ke diri gue. Gue bisa melakukan kontribusi lain, gue bisa lebih berguna, gue bisa lebih bermanfaat, gue bisa memberi, membasuh walau kering. Gue jadi ingat lagi kalimat yang pernah gue dengar di salah satu podcast nya maknatalks, bahwa Tuhan menciptakan gue di dunia pasti ada maksud dan tujuannya, gue hidup di dunia ini pasti ada alasannya, oleh karena itu hidup gue di dunia ini yang cuma sekali harus jadi bermakna. Gue mau fokus aja buat cari dan nemuin makna hidup gue. Buat apa melihat kesuksesan orang? Setiap orang punya definisi sukses yang berbeda. Pun gue punya definisi sukses sendiri, yang seharusnya gue merancang rencana buat mencapai titik sukses itu, yang sebetulnya bukan titik akhir juga karena bagi gue sukses itu sebuah proses yang ngga pernah ada ujungnya. Jadi gue coba buat pelan-pelan nemuin makna hidup gue, terima diri gue, dan bisa kok gue melakukan hal-hal lain yang lebih keren. 

Selanjutnya, tentang khawatir. Khawatir secara luas ya. Gue memang orangnya khawatiran. Perasaan ragu, takut, khawatir itu emang ngga pernah berhenti. Pasti selalu datang. Misalnya, sesederhana pas ujian nih, gue khawatir banget ngga bisa ngerjain soal-soal ujian, setelah ujian itu berakhir, apakah kekhawatiran akan hilang? Bisa jadi hilang, bisa jadi datang rasa khawatir yang baru. Contohnya, gue khawatir nilai gue jelek, pas hasil ujian keluar, ternyata nilainya ngga jelek-jelek amat, tapi khawatir aja IPK nya turun. Ceritanya ini mementingkan nilai ya. Mungkin kalian pernah merasakan kekhawatiran yang terus muncul juga? 

Mengenai khawatir dan ragu, kemarin gue juga abis nonton #proyeksipikiran nya kak Vina Aulia di Youtube, tentang keraguan finansial. Gue cukup concern tentang hal ini, I’ve been there. Iya, antara finansial khususnya cuan mungkin ngga menentukan akan sebahagia apa hidup ini. Mungkin banyaknya uang ngga sebanding lurus dengan tingginya tingkat kebahagiaan seseorang. Uang emang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang? Ngga juga sih, tapi kebanyakan iya juga. Intinya, gue sadar di umur gue yang mau seperlima abad, peran gue sebagai kakak pertama dari 3 adik, gue jadi resah dan ragu, akan kah gue bisa jadi tulang punggung keluarga nanti pada masanya? Dulu mungkin segala yang gue mau selalu tercukupi, hidup nyaman, selalu dapat apa yang gue mau, lalu sekarang segala yang gue mau berubah jadi kerja keras dulu, berhemat, nabung, dan membatasi keinginan. Harus bisa cukup buat beli sesuatu sendiri. Keraguan finansial ini muncul, gue harus lebih bijak buat serius akan hal finansial. Harus mengatur keuangan sedemikian mungkin, harus cari tambahan penghasilan, harus tau mana yang lebih penting untuk ditaruh di prioritas pertama. Kalau kata kak Vina, “bukannya aku memaksakan diri jadi orang yang bijak, tapi berdamai dengan keadaan memberikan rasa nyaman yang bernilai lebih dari materi”. Gue belajar buat berdamai sama keadaan. Sedahsyat apapun badai yang menghadang, sebesar apapun ombak berdebur, gue coba buat tetep jalanin. Gue mencoba untuk ngga lagi fokus sama kekurangan, karena jadi sulit untuk Bahagia. Gue tau perlahan gue pasti bisa melewati semuanya dan bisa lebih baik, bisa lebih nyaman sesuai kebutuhan. Gue tau ini bagian dari proses hidup gue, termasuk proses mencari makna, proses berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan semesta, sampai bisa ketawain aja hidup ini.

Source inspirasi ku:
Rehat - Kunto Aji https://youtu.be/yNcGtKAacts
Membasuh - Hindia ft Rara Sekar https://youtu.be/emddwjzuNW4
Keraguan Finansial - Vina Aulia https://youtu.be/UhkGUKPTyH8

Komentar