Halo!
Di tulisan
kali ini, gue akan bahas mengenai pengalaman gue dalam menggunakan media sosial.
Selamat
datang di abad ke-21! Perkembangan teknologi yang semakin pesat dan hadirnya
internet banyak menimbulkan perubahan-perubahan dalam hidup kita. Salah satu
yang terlihat sekali adalah perubahan dalam berkomunikasi dan hubungan
antarpribadi. Pesatnya perkembangan teknologi dan internet juga mengubah
kehidupan manusia secara global. Kini, kehidupan manusia tidak lagi sebatas
ruang dan waktu. Mengutip konsep Global Village-nya McLuhan, kini manusia hidup
dalam satu global village, di mana kita semua saling terhubung melalui jaringan
internet. Hadirnya berbagai macam media sosial juga mendukung kesatuan dan
saling terhubungnya masyarakat secara global.
Mungkin
kalo ditanya, siapa sih yang ngga punya media sosial? Jawabannya hampir
mustahil. Media sosial saat ini sudah menjadi aplikasi wajib untuk banyak
orang. Kalau ngga punya media sosial rasanya ketinggalan banyak hal, dan kudet
banget. Menurut survei yang diadakan oleh We Are Social yang dirilis Januari 2019,
jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta. Media sosial yang
paling banyak digunakan antara lain Youtube, WhatsApp, Facebook, dan Instagram.
Sedangkan intensitas penggunakan internet rata-rata per hari nya 8 jam 36
menit, dan untuk rata-rata penggunaan media sosial per hari nya 3 jam 26 menit.
Dari data tersebut, bisa kita lihat bahwa pengguna media sosial di Indonesia
sangat banyak, bahkan mencapai 56% dari populasi di Indonesia. Dan rata-rata
waktu menggunakan internet terbilang cukup lama durasinya.
Hadirnya
media sosial secara tidak langsung membawa banyak perubahan dalam pola
interaksi sosial antarindividu. Media sosial bukan sekadar untuk tempat kita
bisa berinteraksi dengan teman-teman, keluarga, dan orang lain, tapi juga dapat
menjadi platfrom untuk kita untuk berbagi setiap momen-momen, mendapatkan
banyak informasi, dan bahkan bisa menjadi tempat untuk membeli suatu barang.
Mungkin, tanpa disadari kita ngga bisa lepas dari media sosial. Contohnya
setiap bosen di kelas ngga jarang kita buka IG untuk lihat stories orang lain,
lagi di transportasi umum kita scrolling timeline twitter, dan komunikasi kita
yang mungkin hampir semuanya dilakukan melalui media sosial berbasis messenger
seperti WhatsApp dan Line. Tidak lepasnya gadget dari kehidupan kita, membuat
realitas online dan offline seperti bercampur, melebur, menjadi satu. Kita ngga
lagi hidup di hitam atau putih, tapi kita hidup di abu-abu distorsi realitas
online dan offline.
Sebagai
generasi millennial dan generasi Z yang hidup dalam era digital dan
perkembangan teknologi, serta menjadi salah satu generasi yang paling aktif
dalam menggunakan media sosial, banyak implikasi yang dirasakan dari distorsi
realita tersebut. generasi millennial menurut survei yang dilakukan American
Psychological Association pada tahun 2014, generasi millennial menjadi generasi
yang paling stress. Salah satu penyebabnya adalah karena banyak dari generasi
millennial yang juga pengguna aktif media sosial mengaku takut kecanduan dalam
menggunakan media sosial dan terpapar dampak negatif dari media sosial
tersebut.
Tapi
sebenernya emang iya ya, media sosial punya efek negatif?
Kira-kira
apa aja sih efek negatif dari media sosial?
Sebelum
bahas implikasi negatif, gue mau cerita pengalaman gue dulu dalam menggunakan
media sosial dan apa aja yang gue rasakan selama menggunakan media sosial. Gue bisa
dibilang menjadi pengguna smartphone aktif itu baru-baru SMA karena saat SMP
sering banget hp ilang yang akhirnya ngga dibeliin lagi☹
Namun, sebagai pengguna internet gue cukup aktif sejak SMP dan bisa dibilang
cukup melek ‘internet’. Pada masa SMP-SMA gue ngga merasakan banyak masalah
dengan aktif di berbagai media sosial. Bahkan bisa dibilang gue salah satu
orang yang senang berbagi hal-hal positif, emang positive vibes gitu orangnya,
dan optimis banget kalau sebenarnya internet dan media sosial itu punya impact
positif yang sangat besar. Bayangkan aja, dengan kemudahan penyebaran
informasi, kita bisa lho bantu orang untuk mengadakan crowdfunding, mengajak
untuk terlibat suatu kampanye, dan menyebarkan infomasi yang bisa memperluas
wawasan seseorang.
Tapi setalah
kuliah, rasanya kok media sosial sesak banget ya, toxic banget. Apalagi dengan
kemunculan fenomena second account. Rasanya makin susah aja membedakan mana
realitas online dan offline karena setiap orang bisa berubah sikapnya. Ok. Ini sebenernya balik lagi ke pribadi
masing-masing ya.
Ada satu titik di mana gue jadi ngga PD banget untuk posting foto,
walaupun itu bukan self-potrait. Makin insecure banget buat nulis caption yang
panjang-panjang seperti yang dulu sering gue lakukan di IG. Dan makin enggan
untuk banyak-banyak bikin stories di IG. Sejujurnya bingung untuk menjelaskan
apa penyebab insecurity tersebut. mungkin karena terlalu banyak membandingkan
feeds sendiri dengan orang lain. pokoknya ada perasaan bahwa eksistensi gue ini
tuh ngga ada apa-apanya gitu. Tapi entah kenapa, merasa aja kalau ekologi media
sosial itu membuat seseorang harus dapat validasi dari orang lain. ngga juga
sih, cuma secara personal, gue sendiri terkadang jadi mempertanyakan diri sendiri
kalau mau posting sesuatu.
“Ngapain
sih posting foto buku atau tampilan laptop? Mau dibilang belajar?”
“Mau dikata
apa sih posting minum pake sedotan bamboo? Mau dibilang SJW lingkungan?”
Rasanya
asumsi-asumsi tentang penilaian orang lain malah makin meningkat. Padahal semua
itu diri kita sendiri yang buat. Dan penilaian orang lain terasa penting
banget, padahal mah ngga punya dampak signifikan juga kalau kita tutup telinga.
Hal ini juga terkait dengan komentar-komentar orang lain di media sosial, yang
siapa pun bisa berkomentar. Menurt gue, komentar itu menjadi salah satu kenapa
media sosial sendiri menjadi ‘toxic’ bagi sebagian orang, bahkan ada beberapa
kasus membuat seseorang stress dan depresi. Kalimat demi kalimat yang ada di
sebuah kolom komentar juga sebenernya tergantung dari persepsi orang yang
membacanya, karena menurut saya komunikasi verbal dalam kolom komentar ngga serratus
persen tersampaikan sesuai maksud dari orang yang memberi komentar. Namun, di
sisi lain, dengan bebasnya berkomentar, terkadang beberapa orang yang ngga
sadar telah menyebarkan hate comment atau hate speech di media sosial, terutama
pada akun-akun anonim. Mereka merasa aman dibalik akun anonim tersebut.
Selain hate
comment tersebut, menurut gue yang toxic dari media sosial lainnya adalah media
sosial dapat meningkatkan FOMO (Fear of Missing Out), takut ketinggalan suatu berita
yang ada di media sosial, contohnya tren. Rasanya cemas aja kalo ngga buka IG,
Twitter, Line dan lainnya. Seperti yang sudah disinggung di awal bahwa sekarang
hampir semua interaksi kita terjadi di
media sosial. Akibat FOMO ini salah satunya memicu perasaan negatif. Termasuk kecemasan
yang berlebihan nih, guys. Kecemasan yang berlebihan ini nih, yang menjadi
salah satu penyebab generasi millennial jadi generasi yang paling stress.
Terakhir yang
ingin gue bahas adalah tentang framing body image yang secara ngga sadar
terbentuk di media sosial. Body image ini berkaitan dengan self-objectification
seseorang terhadap body image-nya sendiri. Isu self-love jadi penting banget
buat membangun lagi self-esteem yang mungkin udah terdistraksi oleh
framing-framing yang terjadi di media sosial. Terbentuknya beauty standards ini
beneran bikin insecure banget lho. Banget.
Mungkin itu
beberapa ke-toxic-an yang gue lihat di media sosial. Tapi sekarang gue makin
sadar, ternyata media sosial selain menjadi salah satu pemicu stress, bisa juga
dijadikan tempat untuk menumpahkan stress tersebut. contohnya, gue mempunyai
akun IG (cerita.dan.kata) yang isinya cerita-cerita gue dan gambar-gambar gue yang menjadi medium gue
untuk mengeluarkan emosi, perasaan, dan energi negatif yang berlebihan. Dan ternyata
kalau kita ngga buka IG selama 5 hari, ngga ada hal buruk yang akan terjadi
pada diri kita kok, kita bisa tetap update kok. Malah rasanya jadi lega banget
jika kita menyediakan waktu sedikit untuk beristirahat dari media sosial dan
realita online itu. Detoks digital! Iya, seperti detoks pada umumnya yang
berguna untuk mengeluarkan racun, jika kita merasa media sosial ini udah toxic
kita bisa nih detoks digital. Rasanya damai banget. Mungkin ngga semua media sosial
secara sekaligus yang kita ngga buka sama sekali, tapi dikurangi penggunaanya. Misalnya
hanya menggunakan line untuk tetap terhubung sama informasi tugas, atau tetep
update sama temen-temen. Tapi buka IG seperlunya aja, mungkin di setiap prime
time aja. Dari detoks digital ini, kita bisa mengurangi nih kegitan
membandingan diri sendiri dan orang lain, bisa punya lebih banyak waktu untuk
me time, dan bisa juga mengurangi kecemasan kita.
Selain detoks
digital, kita juga bisa nih bikin filter bubble kita itu yang sesuai kita mau. Dengan
algoritma yang biasanya membaca dari apa yang sering kita lihat kontennya, atau
kita like, membangun filter bubble kita. Dengan filter bubble yang kita sukai
atau yang penting-penting aja, kita ngga jadi insecure lagi, ngga membandingkan
diri sendiri dengan orang lain, dan ngga merasa kalau media sosial ini toxic
banget.
Yuk,
mungkin kita bisa coba yaa detoks digitalnya.
Tulisan ini
diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform anak
bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi.
Semangatttt terus nulisnya ya kk 🌹
BalasHapus