"...karena toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan."
Pada Kamis, 12 Juli 2018, gue bersama Aurel—temen gue—ikut dateng ke suatu event. Nama event itu adalah Bersama Merawat Keberagama(a)n. Event ini diadakan oleh Campaign.com dan berkolaborasi dengan sabangmerauke, toleransi.id, Indika Foundation, dan Binus University serta Indorelawan dan proud sebagai community partner. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Binus University, fX Sudirman, Jakarta. Dan pembicaranya keren-keren guys, ada Trivet Sembel (CEO of Proud Media Group), Gloria (Paskibraka 2016 dan duta pemuda kemenpora) dan Alanda Kariza (author). Seperti nama acaranya, hal-hal yang dibahas tuh mengenai toleransi, menghargai dan mencintai perbedaan yang ada di Indonesia, pokoknya walau berbeda-beda kita tuh satu, Indonesia!
Rangkaian acaranya tuh gak cuma talkshow dengan pembicara yang gue sebutin di atas sih, ada 3 rangkaian acara yang bakal gue ceritain.
![]() |
| instagram.com/campaign.id |
Sesi pertama adalah talkshow dengan Trivet, Gloria, dan Alanda dengan moderatornya Mba Ayu (Founder sabangmerauke). Di sesi ini, mba Ayu nanya2 ke speakers (yaiyalah), tentang apasih definisi toleransi itu?
Gue gak begitu inget siapa yang bilang, tapi yang gue dapet, toleransi gak Cuma menghargai perbedaan dalam konteks etnis, suku, agama, ras, tapi juga menghargai perbedaan pendapat, pandangan, dan pilihan seseorang. Toleransi juga bukan hanya 'kalo lo gak nyenggol, ya gue diem', tapi kita juga bisa menerima dan mencintai perbedaan yang ada. Kayak kisahnya Gloria, jadi Ayahnya Gloria itu orang Perancis dan Ibunya orang Sunda, pasti berbeda banget dong kulturnya, dan apa yang diajarkannya juga beda, dia kasih contoh saat dia batuk Ayahnya bilang “Jangan lupa minum obat ya” lupa tepatnya gimana, kalo Ibunya bikang “es terossss” gitu dah. Udah keliatan kan bedanya? Terus gue lupa banget, ini tuh saat dia SD atau SMP, Kedua orangtuanya tuh udah merasa gak bahagia bersama, dan Gloria ini menyadari itu, lalu dia ajak bicara keduanya, kalau emang mama dan papa ingin bahagia sendiri silahkan, dia bilang gitu guys. Gue dalam hati, 'wow, orang-orang tuh biasanya gak mau orangtuanya pisah dan jadi brokenhome, tapi dia ngeliat dari sisi yang berbeda, dia sadar bahwa udah ada pilihan yang berbeda di antara kedua orangtuanya' Gloria pasti sayang banget sama orangtuanya, dan dia tau bahwa itu cara yang baik.
Di sesi talkshow banyak berbincang tentang toleransi dari berbagai macam sisi deh pokoknya. Selain itu, ada pertanyaan tentang para speakers nya juga sih, kayak kenapa kak Trivet bisa bikin proud.project, buku Shopismata nya mba Alanda, dan lain-lain.
![]() |
| intagram.com/campaign.id |
Sesi selanjutnya itu, Ask Me Anything, kayak fitur barunya instagram kan. Jadi di sesi ini, ada fasilitator dari semua agama yang diakui di Indonesia. IYA! 6 Agama, Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Nah, fasilitatornya Kak Irfan (Islam), Kak Ajeng (Katolik), Kak Githa (Hindu), Kak Aldi (Kong Hu Cu), Kak Emilia (Kristen), dan Kak Arya (Buddha). Dan lo boleh nanya apa aja ke fasilitator tiap agama, asal jangan SARA ya genks! Sayang banget, gue gak menanyakan semuanya. Gue Cuma nanya ke kak Aldi dan Kak Ajeng. Dan dari 2 itu aja udah bikin gue lebih terbuka banget, dan tau gak sih rasanya setelah lo tau lebih dalam tentang apa yang berbeda dengan lo itu langsung “O GITU!” POKOKNYA DAPET BANGET DAH MOMENT “OGITU” nya. Dan gue merasa, semua pertanyaan gue tentang Agama Kong Hu Cu tuh gimana ya konsep ketuhannya, ibadanya, perasaan orang yang menganut agama Kong Hu Cu seperti apa sih? Karena dari gue hidup selama 18 tahun ini gue baru pertama kali lho ketemu dengan penganut agama Kong Hu Cu. Selain itu terjawab sudah, apa berbedaan Protestan dan Katolik. Kalo mau tau lebih lanjut, stay tune di IG nya @Campaign.id yaa, bakal ada video nya. Tunggu aja!!
Dan sesi terakhir. Sebenernya sesi ini harus registrasi dulu, dan terbatas untuk 40 orang. Gue dan Aurel gak daftar sebelumnya. Dan pas sesi 2 berakhir, ternyata masih ada slot kosong. Awalnya pengen-engga-pengen-engga buat ikut. Cuma karena kita manusia gabut dan kepo juga sih, yaudah ikut aja.
Sesi terakhir namanya Open Space—model diskusi terbuka dimana ada beberapa kelompok diskusi dengan tema berbeda-beda, gak ada yang memimpin diskusi atau fasilitator, anggota diskusi bebas berpindah ke kelompok diskusi lain nya dengan tema yang berbeda tersebut. Ini pengalaman pertama banget sih. Walaupun saat itu hanya simulasi, tapi waw banget.
Jadi di Open Space, kita disuruh nulis tema diskusi apa yang menarik menurut kita, terus kita klasifikasiin tema-tema yang semacam. Dan saat itu ada 4 yaitu, perdamaian, perbedaan, politik dan agama, serta pendidikan. Gue ikut ke pendidikan padahal nulisnya tentang perbedaan hehehehe. Di kelompok pendidik gue ketemu orang-orang hebat. Tapi semua orang yang hadir hebat sih menurut gue. Di kelompok tersebut gue ketemu Kak Valen pendiri sekolah Kartini Kolong Jembatan, Kak Makki dan Kak Evelina dari taman baca inovator, ada Kak Ocy dan temannya dari ruangguru, ada Metdita, dan Tasya. Pokoknya kita cerita masalah pendidikan di Indonesia, literasi, dan bullying pada anak-anak.
P.s : apa yang dibicarakan di Open space tuh gak boleh dibawa keluar.Itulah rangkaian acara Bersama Merawat Keberagama(a)n. Selain ilmu yang bermanfaat, ketemu teman baru, dapat cerita inspiratif, acara ini tuh gratis dan dapat makan siang Ayam Bakar Mas Mono. Hehehe. Aku mah cuma bisa ikut acara yang gratisan dan kalo ditambah dapet makan udah bahagia banget awak.
Poin yang gue dapet, coba deh lebih tau tentang orang-orang di sekitar kita, lebih mengenal perbedaan yang ada di antara teman-teman kita, memandang suatu hal dari berbagai macam sisi (ini susah memang), dan sadar bahwa kita tuh satu, INDONESIA!
#merawattoleransi



Yash Ada nama gua
BalasHapus